Aina dan Amira
Aina dan Amira adalah dua gadis cilik yang ditakdirkan lahir sebagai kembar identik. Semuanya nyaris sama, dari bentuk wajah, warna kulit juga sifatnya. Kalau Aina suka pada warna biru, Amira pun begitu. Bila Aina merasa sedih atau gembira, Amira juga ikut merasakannya. Mereka seolah satu walau dalam wujud yang terpisah. Sejak dari buaian sampai berusia tujuh tahun sekarang ini, mereka tak pernah berjauhan. Disekolahpun mereka selalu duduk sebangku.
Papa dan Mama sangat sayang pada Aina dan Amira begitu juga dengan teman-teman disekolah serta para tetangga. Karena bagi mereka anak kembar itu menarik. Aina dan Amira kerap membuat orang-orang yang melihatnya terpukau bahkan kadang-kadang nyaris terpedaya. Mana Aina dan mana yang Amira? Semuanya nyaris sama, kalau bicara suara mereka juga terdengar serupa. Hanya Mama dan Papa saja yang bisa mengenali mereka secara pasti. Itupun kalau tanda lahir dipangkal lengan Aina kelihatan, kalau tidak Mama dan Papa juga sedikit kesusahan membedakan kedua putri kembarnya itu.
Pernah Mama menerapkan peraturan agar Aina dan Amira tidak memakai pakaian yang sama mode dan warnanya serta merubah bentuk rambut mereka. Aina berambut pendek sedangkan Amira berambut panjang dan berponi. Tapi kedua anak kembar itu protes dan tak mau dibedakan satu sama lainnya. Karena Mama memaksa terus akhirnya Aina dan Amira jatuh sakit. Tubuh mereka panas tinggi sehingga membuat Mama jadi kalang kabut. Papa yang sedang berada dikantor terpaksa dipanggil pulang.
Sejak saat itu Mama tidak punya keinginan lagi untuk merubah penampilan Aina dan Amira agar terlihat beda. Ini memang sudah ketentuan dari sang pencipta, bisik Mama dalam hati. Bersyukur saja dan terima apa adanya. Mama tak merasa keberatan meskipun sedikit kesusahan mengenali kedua putri kembarnya itu. Mana Aina dan mana yang Amira?
“Masa sih, Jeng Lilis tidak bisa membedakan anak sendiri?” tanya Bu May tetangga sebelah rumah.
“Memang saya tidak bisa, Bu May. Meski naluri seorang Ibu hampir selalu benar tapi hal itu tak berlaku pada saya. Kalau mereka dihadapkan berdua, saya perlu waktu untuk mengenalinya. Itupun kadang-kadang salah. Saya pikir Aina, eh nggak taunya Amira.” Mama tersenyum mengakui kelemahannya.
“Jadi bagaimana cara Jeng Lilis mengenali mereka secara pasti?” tanya Bu May lagi.
“Saya panggil namanya. Siapa yang datang berarti dialah orangnya.” jawab Mama jujur.
“Kalau mereka datang berdua?” kejar Bu May penasaran.
“Saya sudah bikin peraturan. Siapa yang dipanggil dia yang harus datang.” Jawab Mama terus terang.
“Kalau mereka berbohong dan bertukar tempat, bagaimana? Dipanggil Aina tapi yang datang Amira?” selidik Bu May.
“Setahu saya mereka tak pernah begitu, Bu May. Atau kalau saya merasa tidak yakin, saya minta diperlihatkan tanda lahir dipangkal lengan mereka. Kalau ada bulatan kecil berwarna biru, itu berarti Aina dan kalau tidak ada dialah Amira.” urai Mama panjang lebar.
“Agak repot juga ya, Jeng?” Bu May meringis.
“Ya, tapi saya senang punya anak kembar. Mereka membuat saya semakin takjub pada kekuasaan Tuhan.” senyum Mama mengembang.
Selagi Mama dan Bu May berbincang diberanda, Amira melintas dari halaman samping menuju pintu gerbang rumah.
“Mau kemana, Aina?” tegur Mama.
“Aina dikamar, Ma. Ini Amira.”
Mendengar jawaban itu Bu May tertawa. Mama cuma senyum-senyum saja.
“Ya, Amira mau kemana?” tanya Mama lagi.
“Ke mini market depan, Ma. Beli stabilo untuk sekolah.” Jawab Amira.
“Ya, sudah.Hati-hati nyeberang jalan.” Mama mengingatkan.
Setelah Mama melupakan keinginannya untuk mencari perbedaan diantara Aina dan Amira, disaat itu pula Mama menemukan sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Ternyata ditengah kesulitan, Tuhan memberikan kemudahan. Sekali lagi Mama merasakan betapa Tuhan itu maha bijaksana dan tak mau mempersulit hambaNya. Kejadian itu terjadi pagi tadi ketika Aina minta bantuan Mama untuk menguncir rambutnya dengan memasang pita.
“Nah, kalau begini Aina tambah cakep kan, Ma?” Aina tersenyum setelah Mama selesai menguncir rambutnya.
Saat itu Mama melihat dengan jelas ada lesung pipi disebelah kanan pipi Aina, tapi dibagian sebelah kiri tidak ada. Jadi lesung pipi Aina cuma sebelah.
“Ma, rambut Amira dikuncir juga, ya?” Amira datang dengan tergesa.
Mama memperhatikan wajah Amira dengan seksama.
“Kenapa, Ma?” tanya Amira heran karena dipandangi seperti itu.
“Tidak apa-apa, sini Mama kuncir rambutnya.” Mama meraih pundak Amira.
Setelah selesai dikuncir, Amira tersenyum pada Mama.
“Terima kasih Mama.”
Mama terperangah. Kali ini dia melihat ada lesung pipi disebelah kiri pipi Amira. Sama seperti Aina, lesung pipi Amira juga cuma sebelah. Mama melihat lesung pipi Aina disebelah kanan sedangkan Amira disebelah kiri.
“Subhanallah!” gumam Mama merasa takjub.
“Kenapa, Ma?” tanya Aina dan Amira serempak.
“Tidak apa-apa, sayang.” Mama memeluk kedua putri kembarnya itu dengan perasaan haru dan bahagia.
Ketika Mama membicarakannya pada Papa, lelaki itu tersenyum senang tapi matanya berkaca-kaca. Berulang kali dia mengucap syukur dalam hati.
“Itulah kekuasaan Tuhan yang selama ini luput dari perhatian kita.” ujar Papa penuh kearifan.
Tuhan memang tak pernah memberatkan dan menyusahkan hambaNya. Ditengah kesulitan Mama dan Papa untuk mengenali dan membedakan kedua putri kembarnya, Tuhan yang maha pengasih dan penyayang itu memberikan kemudahan pada mereka untuk memastikan mana Aina dan mana yang Amira, melalui lesung pipi yang masing-masing cuma sebelah. Aina di kanan dan Amira di kiri. Ternyata semakin tumbuh besar, wajah kedua putri kembar itu semakin terbentuk dan menampakkan perubahan dengan munculnya lesung pipi yang mungkin selama ini belum terlihat.
“Mama repot punya anak kembar seperti kami, ya?” tanya Aina malam itu ketika Mama mengantarkan mereka pergi tidur.
“Kenapa Aina tanya begitu?” Mama heran mendapat pertanyaan seperti itu.
“Karena Mama kesusahan mengenali kami, kan?” timpal Amira.
“Tidak sayang, kalian terlihat sama tapi ada juga bedanya. Mungkin selama ini luput dari perhatian Mama dan Papa atau karena memang baru muncul sekarang.” jawab Mama sambil tersenyum.
“Apa bedanya, Ma?’ tanya Aina penasaran.
“Kalian masing-masing punya lesung pipi tapi cuma sebelah. Aina di kanan dan Amira di kiri.” ujar Mama menerangkan.
Aina dan Amira saling pandang. Mereka seperti bercermin. Bagai pinang dibelah dua. Tuhan memang sang pencipta yang serba maha dan tak ada yang mustahil bagiNya. Anak kembar itu adalah bentuk anugerah yang dilipat gandakan olehNya. Maka berbahagialah…***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar