Launching Buku Sang Penanti

Launching Buku Sang Penanti
City Ice Cream Cafe, Plaza Medan Fair

Jumat, 10 April 2009

Mimpi Aisha

Aisha menatap dari jendela rumah papan yang amat sederhana itu. Setiap pagi dia mengantar kepergian ayahnya bekerja, setelah ayah menghilang dari pandangan, Aisha masih duduk menatap dari balik jendela. Aisha tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya. Ayah Aisha cuma buruh bangunan dan ibunya seorang buruh cuci di rumah tetangga.

Sebetulnya Aisha punya keinginan kuat untuk sekolah tapi karena ketiadaan biaya akhirnya Aisha hanya belajar baca tulis dari ayah atau ibunya yang cuma tamat sekolah dasar. Tapi meski pun begitu sekarang Aisha sudah bisa sekedar baca tulis.

“Aisha, mamak pergi dulu, ya?” ibu Aisha meletakkan sepiring makanan dan secangkir air putih di dekat Aisha.

Seperti biasanya Aisha cuma tersenyum. Ibunya mencium kepala Aisha dan beranjak pergi meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangganya.

“Hati-hati di rumah ya, nak?” pesan ibunya sebelum menutup pintu.

Aisha memandang kepergian ibunya sambil melambaikan tangan. Anak perempuan berusia delapan tahun itu masih tersenyum. Keadaan susah tidak membuatnya bersedih apalagi sampai putus asa. Dia ingat betul petuah yang selalu diucapkan ayah dan ibunya bahwa Tuhan itu maha pengasih dan penyayang. Aisha merasakan kebenaran dalam kata-kata itu. Meski keluarganya miskin tapi rumah mereka dipenuhi dengan kasih sayang dan kehangatan. Tuhan memang tidak memberi orang tua Aisha harta benda tapi Tuhan memenuhi hati mereka dengan perasaan kasih dan kesabaran yang luar biasa.

Aisha masih duduk dibalik jendela, memandang ke langit yang bersih tanpa awan. Semilir angin pagi menerpa wajah Aisha yang penuh dengan senyum, gambaran dari kebersihan hatinya. Puas memandangi langit, Aisha beringsut sedikit menggapai makanan yang terletak didekatnya. Cuma sepiring nasi putih, ikan asin goreng dan kerupuk. Aisha tersenyum lagi. Ini rezeki dari Tuhan bisik Aisha dalam hati. Dia bersyukur masih bisa makan meski seadanya, sementara di tempat lain ada orang yang mati kelaparan.

Selesai makan Aisha masih duduk di balik jendela. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain memandang keluar rumah. Melihat orang-orang yang lewat di gang kecil depan rumah atau menatap ayam dan kucing tetangga yang melintas di halaman. Tapi diantara semua itu, Aisha lebih suka memandang langit. Baginya langit itu menyimpan daya tarik yang luar biasa. Langit itu harapan, langit itu cita-cita. Aisha ingin terbang ke langit. Menari di antara awan, bulan, bintang dan matahari.

Agak siang sedikit, ibunya pulang ke rumah. Mencuci pakaian, piring kotor dan memasak. Aisha tak membantu, kali ini dia merebahkan diri di dipan kayu yang diletakkan di dekat jendela. Ketika selesai masak, ibunya menyuapi Aisha makan. Siang ini menunya agak istimewa, ada tumis kangkung dan telur dadar.

“Kita makan enak hari ini, mak?” tanya Aisha gembira.

“Iya, tadi mamak baru terima gaji. Jadi mamak bisa masak enak.” ibu Aisha tersenyum

Selesai makan disuapi ibunya, Aisha kembali merebahkan tubuhnya di dipan kayu. Mendengarkan ibunya mendongeng hingga akhirnya dia tertidur. Tuhan itu maha pengasih dan penyayang bisik ibunya ke telinga Aisha sebelum beranjak pergi meninggalkan anaknya itu dan kembali ke rumah majikannya untuk menyeterika pakaian yang dicucinya tadi pagi. Sedangkan Aisha lelap dalam kedamaian hatinya.

Sore hari ayah pulang kerja, Aisha melambai-lambaikan tangannya dari balik jendela menyambut kepulangan sang ayah. Kini mereka berkumpul lagi setelah seharian ayah sibuk bekerja mencari nafkah. Aisha sangat bahagia berada di tengah-tengah orang tuanya. Selama ini merekalah orang-orang yang dekat dengan Aisha. Tak ada yang lain, tak ada sahabat. Meski sebenarnya dia ingin keluar rumah dan bermain dengan anak tetangga. Tapi Aisha cuma jadi bahan olok-olok anak tetangga disekitar rumah, akhirnya dia lebih memilih tinggal di rumah saja.

Malam hari setelah makan, ayah dan ibu berbincang serta bercengkerama dengan Aisha. Mereka tertawa bahagia. Kemiskinan tidak membuat mereka bersedih. Bahagia itu adanya di hati bukan dalam harta benda. Kalau hati kita lapang, kesusahan seberat apa pun tak akan terasa berat. Ayah dan ibu Aisha selalu menanamkan petuah-petuah bijak ke dalam hati anaknya itu.

”Sudah mengantuk, Aisha?” tanya ayah dengan lembut.

Aisha mengangguk.

“Aisha ingin tidur dan bermimpi indah.” ujarnya pelan.

Ayah lalu menggendong Aisha masuk ke dalam kamar yang sempit dan membaringkan anaknya itu di kasur tipis. Aisha memang tidak bisa berjalan. Sejak usia setahun kaki Aisha tidak tumbuh secara normal. Dokter mengatakan Aisha terkena polio. Tulang kakinya mengecil dan tak bisa berfungsi. Aisha lumpuh sejak kecil. Karena ketidaktahuan orang tuanya, sejak lahir Aisha tidak diberikan oral poliomyelitis vaksin yaitu vaksin tetes untuk mencegah penyakit polio atau lumpuh layu.

“Tidurlah, sayang..” ujar ayah lembut sambil membelai kepala Aisha.

“Terima kasih, ayah.” Aisha tersenyum.

“Aisha ingin mimpi apa nanti?” tanya ayah.

“Terbang ke langit.” jawab Aisha senang.

“Berdoalah supaya Tuhan memberikan mimpi indah malam ini.” ujar ayah lagi.

Aisha tersenyum memandang ayah. Ayah beranjak keluar dari kamar, dia berharap anaknya bermimpi indah malam ini. Bukankah Tuhan pemilik kehidupan yang nyata dan gaib?

“Ya, Rabb… ya, Tuhanku. Engkau maha pengasih dan penyayang . Maka kasihi dan sayangilah ayah dan emak sebagaimana mereka mengasihi Aisha. Ya, Rabb… malam ini Aisha ingin bermimpi terbang ke langit. Kabulkan, ya? Amin…” setelah berdoa Aisha pun memejamkan matanya.

Doa dari bibir mungil Aisha yang selalu bersabar dalam cobaan yang berbentuk penderitaan itu, juga turut diaminkan oleh ribuan malaikat penjaga langit. ***





Tidak ada komentar:

Posting Komentar