
Lebaran Itu Berbagi
Malam takbiran telah menjelang, seleas maghrib lantunan takbir mengumandang dari seluruh masjid dan musholla. Malam pun semakin semarak dengan puji-pujian mengagungkan nama Tuhan. Sepulang dari sholat maghrib di masjid, Fauzi bergegas pulang ke rumah dengan mengajak Alif teman barunya.
“Kita mau kemana, Zi?” tanya Alif heran.
“Ayolah, kita kerumahku.” ajak Fauzi.
Sebetulnya Alif ingin tetap tinggal di masjid untuk mengikuti takbiran sampai sholat isya. Tapi karena Fauzi berjanji tak akan lama dan mereka akan kembali lagi ke masjid untuk melaksanakan sholat isya dan ikut takbiran sampai tengah malam. Maka Alif pun bersedia mengikuti Fauzi.
“Kerumahmu kita mau ngapain, Zi?’ tanya Alif sambil melangkah di samping Fauzi.
“Nanti juga kau tau, Lif.” jawab Fauzi sambil tersenyum.
Sesampainya di rumah Fauzi, Alif langsung di bawa masuk ke kamar Fauzi yang besar, rapi dan bagus. Baru sekali ini Alif masuk ke kamar Fauzi. Dia nampak terkagum-kagum melihat isi kamar sahabat barunya itu. Memang sudah beberapa kali dia main ke rumah Fauzi tapi hanya di beranda saja. Alif sungkan di ajak masuk ke dalam rumah, soalnya dia baru saja bersahabat dengan Fauzi karena memang Alif dan keluarganya baru dua minggu pindah menjadi tetangga keluarga Fauzi.
Fauzi membuka lemari pakaiannya yang besar dan dipenuhi oleh pakaian-pakaian bagus.
“Lif, pilih yang mana saja kau suka.” ujar Fauzi menawarkan.
“Maksudnya, Zi?” Alif teheran-heran.
“Buat kau, Lif. Semua ini memang bukan pakaian baru tapi masih bagus-bagus dan layak pakai. Ayolah, ambil saja berapa pun kau mau. Oya, aku juga punya koleksi baju koko, ambillah untuk kau pakai sholat ied besok pagi.” Fauzi mengambil bebera stel baju koko dan menaruhnya di atas tempat tidur supaya Alif bebas memilihnya.
“Ukuran kita sama, Lif. Kau juga pasti bisa memakainya.” jelas Fauzi.
Alif terdiam. Memang sudah lama dia kepingin memakai baju koko seperti kepunyaan Fauzi. Tapi harganya memang mahal, selama ini Alif hanya dibelikan baju koko yang biasa saja dan murah harganya. Sekarang dia ditawari baju koko yang bagus dan mahal oleh Fauzi, sahabat barunya. Alif merasa sungkan.
“Kalau begitu ambil yang ini buat kau, Lif.” Fauzi memilihkan dua stel baju koko warna biru dan coklat muda untuk Alif.
Malam itu di kamar Fauzi, Alif seolah-olah berada di mal sedang berbelanja pakaian untuk lebaran. Fauzi memilihkan pakaian-pakaian yang bagus untuknya. Dua stel baju koko, tiga stel kemeja dan celana panjang jins serta lima potong kaus oblong yang masih bagus-bagus. Alif juga di kasih sendal kulit dan sepasang sepatu yang nampak seperti baru.
“Daripada jarang di pakai, kan lebih bagus kuberikan untuk kau, Lif. Mubazir kalau disimpan-simpan terus.” ujar Fauzi menjelaskan.
Alif masih terdiam dan tak bisa berkata-kata. Dia hanya memandangi Fauzi yang sibuk melipat dan memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam tas belanjaan bermerek toko terkenal.
“Ini bekas tas belanja waktu kemarin aku beli pakaian bersama mama.” ujar Fauzi menerangkan.
“Terima kasih telah memberiku sebanyak ini, Zi.” akhirnya Alif bersuara juga.
“Asal kau senang menerimanya, aku lebih merasa senang.” Fauzi tersenyum.
“Kau baik sekali, Zi. Padahal kita baru beberapa hari saja berteman.”
“Mamaku bilang kita harus berbuat baik pada orang yang tidak kita kenal sekali pun. Apalagi dengan teman sendiri?” Fauzi tertawa.
“Oh ya, apa orang tuamu tau kalau kau memberikan pakaian-pakaian ini untukku?” tanya Alif khawatir.
“Sudah, mamaku juga mau bertemu denganmu. Nanti setelah ini kita jumpai mamaku, ya?”
Selesai membungkus semua pakaian, sepatu dan sendal, Fauzi memberikannya pada Alif.
“Terima kasih ya, Zi?” Alif menerima pemberian Fauzi. Ada rasa haru melintas dihatinya. Beginilah indahnya persahabatan itu, suka duka di bagi bersama.
Di dapur, mama Fauzi sedang sibuk membantu bik Karsih memasak ketupat, opor ayam, sambal goreng hati dan tauco udang telur puyuh. Tradisi makan ketupat di pagi hari lebaran juga berlaku di tengah keluarga Fauzi.
“Ma, ini Alif.” ujar Fauzi ketika menemui mama di dapur.
“Oh, nak Alif. Ayo, kita ke depan.” mama bergegas meninggalkan dapur.
Fauzi dan Alif menunggu di ruang tamu. Sesaat kemudian mama datang dengan membawa amplop ditangannya.
“Nah, ini untuk jajan lebaran Alif, ya? Dan ini yang satu lagi kasih untuk adikmu. Namanya Mira, kan?”
“Minah, bu.” gumam Alif pelan.
“Oh ya, Minah. Bilang ini untuk jajan lebarannya.” mama memberikan amplop ke tangan Alif.
“Terimakasih, bu.” Alif menyalami dan mencium tangan mama Fauzi.
Malam itu Alif merasakan kebaikan bulan ramadhan. Di tengah kesulitan, Allah pasti memberikan kemudahan. Alif mensyukuri apa yang diterimanya malam ini. Alif pulang ditemani Fauzi, setelah menyimpan semua bungkusan berisi pakaian-pakaian, sepatu dan sendal dirumahnya, Alif dan Fauzi kembali menuju masjid. Sebentar lagi waktu sholat isya. Sementara itu gema takbir masih terdengar bersahut-sahutan. Langit cerah bertabur bintang, seluruh alam semesta bertakbir. Memuji-muji, Allah maha besar, Allah maha besar.***
Harian Global, edisi Sabtu 12 September 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar